Dalil-Dalil Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Mengapa ahlu sunnah demikian bersikeras merujuk pada pemahaman para
shahabat Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami Al-Qur’an dan
Al-Hadits? Ini adalah pertanyaan yang tentunya membutuhkan dalil-dalil
Al-Qur’an dan Al-Hadits untuk menjawabnya. Ahlus Sunnah merujuk kepada para
shahabat dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits dikarenakan Allah dan Rasul-Nya
banyak sekali memberitahukan kemuliaan mereka, bahkan memujinya. Faktor ini
membuat para shahabat menjadi acuan terpercaya dalam memahami Al-Qur’an dan
Al-Hadits sebagai landasan utama bagi Syari’ah Islamiyah.
Dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits shahih yang menjadi pegangan ahlus
sunnah dalam merujuk kepada pemahaman shahabat sangat banyak sehingga tidak
mungkin semuanya dimuat dalam tulisan yang singkat ini. Sebagian diantaranya
perlu saya tulis disini sebagai gambaran singkat bagi pembaca tentang betapa
kokohnya landasan pemahaman ahlus sunnah terhadap syariah ini.
1. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah kecintaan Allah dan
mereka pun sangat cinta kepada Allah :“Sesungguhnya Allah telah ridha kepada
orang-orang mukmin
ketika mereka berjanji setia kepadamu (Hai Muhammad) di
bawah pohon (yakni Baitur Ridwan) maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam
hati mereka lalu menurunkan keterangan atas mereka dan memberi balasan atas
mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).(Al-Fath:18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah ridha kepada para shahabat yang
turut membaiat Rasulullah salallahu alaihi wa sallam di Hudhaibiyyah sebagai
tanda bahwa mereka telah siap taat kepada beliau dalam memerangi kufar (kaum
kafir) Quraisy dan tidak lari dari medan perang.
Diriwayatkan bahwa yang ikut ba’iah tersebut seribu
empat ratus orang. Dalam ayat lain, Allah Sunahanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai
orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agama-Nya
(yakni keluar dari Islam) niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang Ia
mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap
kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di
jalan Alah dan tidak takut cercaan si pencerca. Yang demikian itu adalah
keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan Allah
itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”(Al- Maidah:54)
Ath-Thabari membawakan beberapa
riwayat tentang tafsir ayat ini antara lain yang beliau nukilkan dari beberapa
riwayat dengan jalannya masin-masing, bahwa Al-Hasan Al-Basri, Adh-Dhahadh,
Qatadah, Ibnu Juraij, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah Abu
Bakar Ash- Shidiq dan segenap shahabat Nabi setelah wafatnya Rasulullah
salallahu alaihi wa sallam dalam memerangi orang yang murtad.
2. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah
umat yang adil yang dibimbing oleh Rasulullah salallahu alaihi wa sallam.
“Dan demikianlah Kami jadikan kalian adalah umat
yang adil agar kalian menjadi saksi atas sekalian manusia dan Rasul menjadi
saksi atas kalian.“(Al-Baqarah:143)
Yang diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di
ayat ini ialah para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah
kaum mukminin generasi pertama yang terbaik yang ikut menyaksikan turunnya ayat
ini dan generasi pertama yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Ibnu Jarir
Ath-Thabari menerangkan: “Dan aku berpandangan bahwasanya Allah Ta’ala menyebut
mereka sebagai “orang yang ditengah” karena mereka bersikap tengah-tengah dalam
perkara agama, sehingga mereka itu tidaklah sebagai orang-orang yang ghulu
(ekstrim, melampaui batas) dalam beragama sebagaimana ghulunya orang-orang
Nashara dalam masalah peribadatan dan pernyataan mereka tentang Isa bin Maryam
alaihi salam. Dan tidak pula umat ini mengurangi kemuliaan Nabiyullah Isa
alaihi salam, sebagaimana tindakan orang-orang Yahudi yang merubah ayat-ayat
Allah dalam kitab-Nya dan membunuh para nabi-nabi mereka dan berdusta atas nama
Allah dan mengkufurinya. Akan tetapi ummat ini adalah orang-orang yang adil dan
bersikap adil sehingga Allah mensikapi mereka dengan keadilan, dimana perkara
yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling adil.
3. Para shahabat adalah teladan utama setelah Nabi
dalam beriman
Ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Kalau mereka itu beriman seperti imannya kalian
(yaitu kaum mukminin) terhadapnya, maka sungguh mereka itu mendapatkan perunjuk
dan kalau mereka berpaling mereka itu dalam perpecahan. Maka cukuplah Allah
bagimu (hai Muhammad) terhadap mereka dan Dia Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.”(Al-Baqarah:137)
Ayat ini menegaskan bahwa imannya
kaum mukminin itu adalah patokan bagi suatu kaum untuk mendapat petunjuk Allah.
Kaum mukminin yang dimaksud yang paling mencocoki kebenaran sebagaimana yang
dibawa oleh Nabi salallahu alaihi wa sallam tidak lain ialah para shahabat Nabi
yang paling utama dan generasi sesudahnya yang mengikuti mereka.
Juga ditegaskan pula hal ini oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam Surat Al-Fath 29 :
“Muhammad itu adalah Rasulullah, dan orang-orang
yang besertanya keras terhadap orang- orang kafir, berkasih sayang sesama
mereka. Engkau lihat mereka ruku dan sujud mengharapkan keutamaan dari Allah
dan keridhaan-Nya. Terlihat pada wajah-wajah mereka bekas sujud. Demikianlah
permisalan mereka di Taurat, dan demikian pula permisalan mereka di Injil.
Sebagaimana tanaman yang bersemi kemudian menguat dan kemudian menjadi sangat
kuat sehingga tegaklah ia diatas pokoknya, yang mengagumkan orang yang
menanamnya, agar Allah membikin orang-orang kafir marah pada mereka. Allah
berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalangan mereka itu ampunan dan
pahala yang besar.”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat
Al-Qur’an yang menjadi dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam merujuk kepada
para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam dalam memahami Al- Qur’an dan
Al-Hadits. Tentunya dalil-dalil dari Al-Qur’an tersebut berdampingan pula
dengan puluhan bahkan ratusan hadists shahih yang menerangkan keutamaan
shahabat secara keseluruhan ataupun secara individu.
Dari hadits-hadits berikut dapat disimpulkan bahwa :
1. Kebaikan para shahabat tidak mungkin disamai :
“Jangan kalian mencerca para shahabatku, seandainya
salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud, tidaklah ia mencapai
ganjarannya satu mud(ukuran gandum sebanyak dua telapak tangan diraparkan satu
dengan lainnya) makanan yang dishodaqahkan oleh salah seorang dari mereka dan
bahkan tidak pula mencapai setengah mudnya.“(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Para shahabat adalah sebaik-baik generasi dan
melahirkan sebaik-baik generasi penerus pula :“Dari Imran bin Hushain radhiallahu
anhu bahwa Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebaik-baik
ummatku adalah yang semasa denganku kemudian generasi sesudahnya (yakni
tabi’in), kemudian generasi yang sesudahnya lagi (yakni tabi’it tabi’in).
Imran mengatakan: ‘Aku tidak tahu apakah Rasulullah menyebutkan sesudah masa
beliau itu dua generasi atau tiga.’ Kemudian Rasulullah salallahu alaihi wa
sallam bersabda: ‘Kemudian sesungguhnya setelah kalian akan datang suatu
kaum yang memberi persaksian padahal ia tidak diminta persaksiannya, dan ia
suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, dan mereka suka bernadzar dan tidak
memenuhi nadzarnya, dan mereka berbadan gemuk yakni gambaran orang-orang yang
serakah kepadanya’.”(HR Bukhari)
3. Para shahabat Nabi salallahu alaihi wa sallam adalah
orang-orang pilihan yang diciptakan Allah untuk mendampingi Nabi-Nya :
“Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya
Allah telah memilih aku dan juga telah memilih bagiku para shahabatku, maka Ia
menjadikan bagiku dari mereka itu para pembantu tugasku, dan para pembelaku,
dan para menantu dan mertuaku. Maka barang siapa mencerca mereka, maka
atasnyalah kutukan Allah dan para malaikat-Nya an segenap manusia. Allah tidak
akan menerima di hari Kiamat para pembela mereka yang bisa memalingkan mereka
dari adzab Allah.“(HR Al-Laalikai dan Hakim, SHAHIH)
Dan masih banyak lagi hadits-hadits shahih yang
menunjukkan betapa tingginya kedudukan para shahabat Nabi salallahu alaihi wa
sallam di dalam pandangan Nabi.
Maka kalau Allah dan Rasul-Nya di dalam
Al-Qur’an dan Al-Hadits telah memuliakan para shahabat dan menyuruh kita
memuliakannya, sudah semestinya kalau Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadikan
pemahaman, perkataan, dan pengamalan para shahabat terhadap Al- Qur’an dan
Al-Hadits sebagai patokan utama dalam menilai kebenaran pemahamannya. Ahlus
sunnah juga sangat senang dan mantap dalam merujuk kepada para shahabat Nabi
dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Dikuti dari http://Darussalaf.or.id,
Penulis: Salafy Edisi Perdana/Syaban/1416 H Judul: Mengenal Sejarah dan
Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar