Mari kita
rujuk ayat-ayat ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai ruh-ruh orang
yang telah wafat.
Firman Allah
swt.: “Janganlah kalian berkata; bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah
itu mati, bahkan mereka hidup (dialam lain), tetapi kalian tidak
menyadarinya”.(Al-Baqarah : 154)
Dan
firman-Nya: “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan
Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dan mereka memperoleh
rizki (kenikmatan besar)” ( Ali Imran : 169)
Firman-Nya
juga: “Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang ruh. Jawablah:
‘Itu termasuk urusan Tuhanku’, dan tidaklah kamu diberi ilmu (pengetahuan)
melainkan sedikit” (Al Israa : 85)
Dua firman
Allah diatas disamping menyebutkan orang-orang yang gugur di jalan Allah
itu tidak mati tetap hidup (ruhnya) mendapat kenikmatan, juga dalam
ayat-ayat itu tidak menyebutkan pembatasan yakni hanya ruh-ruh
orang-orang yang gugur dalam peperangan saja yang masih
hidup.
Dengan demikian baik wafatnya itu waktu dalam peperangan sabil
maupun wafat diatas tempat tidur, ruh-ruh (jadi bukan jasadnya) ini semuanya
masih hidup di alam barzakh, makna yang demikian ini sejalan dengan
hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ruh manusia yang telah wafat (baca
keterangan selanjutnya).
Malah
ada riwayat waktu sahabat selesai dari perang besar, mereka gembira tetapi
Rasulallah saw. bersabda: Kita sekarang selesai perang yang kecil dan
menghadapi perang yang lebih besar. Sahabat bertanya; Perang apakah itu Ya
Rasulallah, beliau saw. menjawab ; Memerangi hawa nafsu !
Firman Allah
swt.: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila
kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai
umatmu).” (QS 4:41)
Firman-Nya
juga; “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat
Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi
saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas (perbuatan) kamu“ (QS 2:143) Para Muthawwi’
sekitar makam Rasulallah saw. di Madinah selalu berteriak-teriak kepada para
penziarah dengan ucapan, ‘Wahai haji, Rasul telah mati, berikan salam dan
segera pergilah’ dan jika ada yang sedikit berlama-lama dalam berziarah
lantas diteriaki, ‘Wahai haji, syirik…!!’. Bagi si pembaca bisa
menyaksikan sendiri bila nantinya berziarah ke makam Rasulallah saw.. Apa
maksud kata-kata itu?.Apakah mereka ini tidak memahami ayat-ayat ilahi diatas? Kalau
golongan Wahabi mengatakan Rasulallah sudah wafat, bagaimana beliau saw. akan
menjadi saksi bagi ummatnya setelah wafatnya beliau saw.? Tidak mungkin pula
Nabi saw. dipanggil sebagai seorang saksi atas apa yang tidak beliau ketahui
atau tidak beliau lihat!!
Sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya
jilid III halaman 3 dari Abu ‘Amir, Abu ‘Amir menerimanya dari
‘Abdulmalik bin Hasan Al-Haritsiy, ‘Abdulmalik menerimanya dari Sa’id bin ‘Amr bin
Sulaim, yang menuturkan sebagai berikut: "Saya mendengar dari seorang
diantara kita, namanya aku lupa, tetapi (menurut ingatanku) ia bernama
Mu’awiyah atau Ibnu Mu’awiyah. Ia menyampaikan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri
ra. yang mengatakan, bahwasanya Rasulallah saw. pernah menyatakan; ‘Seorang
mayyit mengetahui siapa yang mengangkatnya, siapa yang memandikannya dan siapa
yang menurunkannya ke liang kubur’. Ketika dalam suatu majlis Ibnu
‘Umar mendengar hadits tersebut ia bertanya; ‘Dari siapa anda mendengar hadits
itu’? Orang yang ditanya menjawab; ‘Dari Abu Sa’id Al-Khudri’. Ibnu ‘Umar pergi
untuk menemui Abu Sa’id, kepadanya ia bertanya; ‘Hai Abu Sa’id, dari siapakah
anda mendengar hadits itu ?’ Abu Sa’id menjawab; ‘Dari Rasulallah saw.’"
Ibnul Qayyim
didalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan, bahwa ruh Abubakar Ash-Shiddiq
ra. tampak (setelah ia wafat) didalam suatu peperangan bertempur
bersama-sama pasukan muslimin melawan kaum musyrikin.
Ibnul-Wadhih
pun dalam Tarikh-nya mengemukakan kesaksian seorang yang melihat
Rasulallah saw. (beliau saw. telah lama wafat) membawa sebuah tombak pendek
ikut berperang melawan musuh-musuh Ahlul-Bait beliau di Karbala, medan
perang tempat Al-Husain ra. gugur sebagai pahlawan syahid.
Dalam hadits-hadits
Nabi saw. menerangkan bahwa ruh-ruh orang yang wafat itu hidup dialam
barzakh, bisa mendengar terompah-terompah kaki orang yang mengantarkan
kekuburnya (HR Bukhori, Muslim dan lain-lain), bisa mendo’akan kerabatnya dan
sebagainya (HR Ahmad dan Turmudzi dari Anas). Begitu juga Imam Bukhori dan
Muslim mengemukakan kisah perjalan- an Isra-Mi’raj Nabi saw.. Setiap beliau
saw. bertemu para Nabi dan Rasul terdahulu, semua mendo’akan
kebajikan bagi beliau saw.. Dengan demikian disini menunjukkan bahwa arwah
orang yang telah wafat di alam baqa bisa berdo’a.
Rasulallah
saw. juga bersabda bahwa arwah kaum mu’minin bisa terbang kemana saja yang
mereka kehendaki (dari Salman Al-Farisy yang ditulis oleh Ibnul Qayyim ‘Mengenai
soal ruh’ halaman 144, serta ada sabda Rasulallah saw. yang serupa juga
diriwayatkan oleh Imam Malik ra). Begitu juga mengenai adzab/siksa
didalam kubur dan lain sebagainya.
Didalam buku fiqih Sunnah Sayid Sabiq ,Indonesia, jilid 4 dari hal.221 bab
pertanyaan didalam kubur, antara lain ditulis:
“Berkata
Ibnul Qayim:’Menurut madzhab golongan Salaf serta para imam mereka, jika
seseorang wafat, maka adakalanya ia akan berbahagia dan adakalanya pula celaka,
hal mana akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Ruhnya itu akan tetap ada
setelah ia berpisah dari badan, mengalami kebahagiaan atau kesengsaraan, dan
sewaktu-waktu ia akan kembali berhubungan dengan badannya, buat menikmati
kebahagiaan atau menderitakan kesengsaraan itu bersama-sama. Kemudian bila
datang saatnya kiamat besar, ruh-ruh itu pun kembali kepada tubuh
masing-masing, dan bangkit lah mereka dari kubur untuk menghadap Allah Rabbul
‘Alamin. Dan mengenai kembalinya badan-badan ini, disepakati bersama baik oleh
golongan Muslimin, Yahudi maupun Nasrani’ “.
Dalam halaman 223 dibuku tersebut juga ditulis, bahwa Hafidz berkata dalam
Al-Fath: “Ahmad bin Hazmin dan Ibnu Hurairah berpendapat bahwa pertanyaan
(kubur) itu hanya diajukan kepada ruh saja, tanpa kembalinya kepada tubuh.
Pendapat ini berbeda dengan pendapat jumhur yang mengatakan, Ruh itu
dikembalikan kepada tubuh atau kepada sebagian daripadanya sebagaimana
diterangkan oleh hadits. Seandainya hanya kepada ruh saja, maka badan tidak
mempunyai keistemewaan apa-apa. Dan tidak adahalang annya jika tubuh mayat telah
terpisah-pisah, karena Allah mampu mengembalikan kehidupan kepada satu bagian
dari tubuh tsb., yang akan menjadi sasaran pertanyaan, disamping Dia mampu pula
menghimpun bagian-bagian tubuh yang telah berserakan”.
Yang menjadi
alasan bagi orang yang mengatakan bahwa pertanyaan kubur itu hanya ditujukan
kepada ruh saja, ialah karena menurut pengamatan, tidak ada tanda-tanda dan
bekas tampak pada tubuh itu sewaktu ditanya, seperti bangkit duduk, digencet
atau dilapangkan tempat dan lain-lain. Dan demikian pula halnya dengan mayat
yang tidak ditanam seperti yang disalib dan lain-lain. Sebagai jawabannya,
jumhur mengatakan bahwa itu tidak menjadi halangan dalam kodrat Ilahi, bahkan
ada bandingannya dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu orang yang tidur, kadang-kadang
ia merasakan kesenangan atau kesakitan, sedang teman yang didekatnya tidak
mengetahuinya. Bahkan juga orang yang tidak tidur (sedang bangun),
kadang-kadang ia merasakan kesenangan atau kesakitan, sedang teman yang
didekatnya tidak mengetahuinya. Atau dia sedang merasa susah atau
senangdisebabkan apa yang sedang didengar atau dipikirkannya, padahal kawan
duduknya tidak menyadarinya.
Pokok pangkal kesalahan terletak dalam menyamaratakan yang ghaib dengan
yang nyata, suasana dialam barzakh dengan di alam dunia.Rupanya Allah swt telah
menurunkan hijab/tirai dan menutupi pandangan dan pendengaran hamba dari
menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, agar mereka tidak takut dan tidak
melarikan diri. Apalagi alat-alat indera duniawi tidak mempunyai kemampuan buat
menembus soal-soal dialam malakut, kecuali bagi orang-orang yang
di-izinkan Allah swt. Demikianlah antara lain yang dikutip oleh Sayid Sabiq
dalam Fiqih Sunnah-nya. Kami sengaja sering mengutip dari bukunya Sayid Sabiq
karena sebagian besar pendapatnya sepaham dengan golongan Wahabi/Salafi
Agama Islam
mewajibkan mempercayai adanya alam ruh walaupun semuanya ini belum terjangkau
dengan akal manusia. Semuanya ini telah dijelaskan baik dalam ayat ilahi
maupun sunnah Rasulallah saw.. Hadits-hadits diatas ini (bisa melihat siapa
yang memandikannya, yang mengantarkan keliang kubur, bisa terbang kealam mana
saja yang dia dikehendaki dan lain sebagainya) juga menunjukkan dan memperkuat
kenyataan adanya kehidupan dialam ghaib (barzakh).
Didalam
perang Badr pun banyak sahabat Nabi saw. melihat sejumlah Malaikat turun dari
langit, berpakaian jubah dan serban berwarna kuning dan membawa pedang ditangan
ikut berperang dipihak pasukan muslimin. Riwayat ini juga menunjukkan bahwa ada
manusia-manusia yang bisa melihat Malaikat, yaitu orang-orang yang diberi ilmu
dan dikarunia kemuliaan khusus (karamah/keramat) diantara para
waliyullah.
Hadits dari
Anas bin Malik sebagai berikut : َّ
عَنْ أنَسٍ بْنِ مَالِكٍ (ر) أنَّ
رَسُوْلَ الله .صَ. تَرَكَ قََتـْلَى بَدْ ٍر ثَلاَثًا
ثُمَّ أتَاهُـمْ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَنَادَاهُمْ
فَقَالَ:
يَا أبَا جَهلٍ ابْنَ هِشَـامٍ يَا
أمَيَّةُ ابْنَ خَلَفٍ يَا عُتْبَةُ ابْنَ رَبِيْعَة يَا شَيْبَة ابْنَ رَبِيـْعَة
اَلَيْسَ قَدْ
وَجَدْتُمْ
مَا وَعَد
رَبُّكُمْ حَقـًّا فَاِنّيِ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقـًّا.فَسَمِعَ
عُمَرُ قَوْلَ النَّبِي فَقَالَ: يَا رَسُولَ
الله
كَيْفَ يَسْمَعُوْا وأنَّي
يُجِيبُوْا وَ قَدْ جَيِِّفُوْا. قَالَ: وَالَّـذِي نَفْسِي بِيَدِه مَا
أنْـتُمْ بِأسْمَع لِمَا أقُوْلُ
مِنْهُمْ
وَلَـكِنَّهُمْ لاَ يَقـدِرُوْنَ
اَنْ يجِيْبُوا (رواه البخاري
ومسلم)
“Bahwa
Rasulallah saw. membiarkan mayyit orang kafir yang terbunuh dalam peperangan
Badar selama tiga hari. Kemudian beliau saw mendatangi mereka lalu berdiri
sambil menyeru mereka: ‘ Hai Abu Jahal bin Hisyam, Hai Umayyah bin
Khalaf, Hai Utbah bin Rabi’ah, Hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kamu telah
mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar (yakni kalah dan
terbunuh). Sesungguhnya aku telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu
yang benar (yakni memperoleh kemenangan)’ Umar bin Khattab ra
mendengar ucapan Nabi saw. bertanya: ‘ Wahai Rasulallah, bagaimana mereka bisa
mendengar dan bagaimana pula mereka bisa menjawab sedangkan mereka telah
menjadi bangkai ? Maka Rasulallah saw. bersabda: ‘Demi zat yang diriku ada
di tangan-Nya, tidaklah kamu memiliki kemampuan mendengar yang melebihi mereka
terhadap apa yang aku ucapkan, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab’ “.
(HR.Bukhori, Muslim).
Lihat hadits
terakhir diatas ini yang mana Rasulallah saw. telah tegas menjawab pertanyaan
Umar bin Khattab ra bahwa mayyit itu bisa mendengar perkataan Nabi saw. malah
pendengaran mereka itu lebih tajam dari para sahabat yang hadir. Hadits
ini menunjukkan kebolehan kita untuk memanggil orang yang telah wafat dengan
kata-kata Ya Fulan ( Hai anu) atau memanggil Ya Rasulalllah dan
sebagainya. Begitu juga apa salahnya kalau kita sering memanggil junjungan kita
Muhammad saw. dengan kata-kata Ya Rasulallah…? (silahkan baca bab tawassul
dan tabarruk dalam website ini)
Ada golongan
yang senang memutar balik makna hadits dari Anas bin Malik tersebut dengan
mengatakan hal ini karena Rasulallah saw. yang berkata kepada si mayyit bila
selain beliau saw. maka mayyit tersebut tidak akan bisa mendengar. Pikiran
mereka semacam ini sudah tentu salah karena yang pertama dalam hadits itu
Rasulallah saw. tidak mengatakan khusus untuk beliau mayyit tersebut bisa
mendengar ucapannya, sedangkan selain beliau mayyit itu tidak bisa mendengar.
Bila demikian Rasulallah saw akan menjawab terhadap Umar ra ‘mereka itu
mendengar karena aku yang berbicara padanya dan selain aku maka mereka tidak
bisa mendengarnya’ tapi jawaban beliau saw. adalah: ‘tidaklah kamu
memiliki kemampuan men- dengar yang melebihi mereka terhadap apa yang aku
ucapkan’..
Yang
kedua; banyak hadits lain mengatakan bahwa orang yang sudah dikuburkan
itu dikembalikan ruhnya kedalam tubuhnya dan dia bisa mendengar terompah para
pengantar jenazahnya, bisa merasakan hidup bahagia atau sengsara (adzab kubur)
di-alam barzakh, dan lain sebagainya. Dalam hadits lain Rasulallah
saw. menyuruh kita menziarahi kubur dan memberi salam kepada mereka. Tidak lain
yang menjadikan semua mayyit bisa mendengar dan sebagainya ini adalah Allah
swt. dan tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa Allah swt. mampu melakukan
yang demikian ini.
Telitilah hadits-hadits
Rasulallah baik yang telah kami kemukakan maupun pada halaman berikut ini yang mana beliau saw. bisa menjawab semua salam yang disampaikan
kepadanya. Beliau saw. juga bisa berdo'a kepada Allah swt. untuk kaum muslimin
yang masih hidup dan lain sebagainya, walaupun beliau saw. sudah wafat.
Begitupun juga ruh kaum mukminin lainnya.
Hadits dari
Abu Ya’la dalam mengemukakan persoalan Nabi ‘Isa as. dari Abu Hurairah ra
bahwa Rasulallah saw. bersabda: “Jika orang berdiri diatas kuburku lalu
memanggil ‘Ya Muhammad Rasulallah’ pasti kujawab”. Hadits ini
dikemukakan juga oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al-Mathalibil-Aliyah
jilid 4/23 pada bab: ‘Kehidupan Rasulallah saw. didalam kuburnya’.
Anas bin Malik ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulallah saw.
pernah menerangkan: “Para Nabi hidup didalam kubur mereka dan mereka
bersembahyang”. Hadits ini diketengahkan oleh Abu Ya’la dan Al-Bazaar di
dalam kitab Majma’uz- Zawaid jilid 8/211. Imam Al-Baihaqi juga menge-
tengahkan juga dalam bagian khusus dari risalahnya.
Anas bin Malik ra. juga mengatakan, bahwa Rasulallah saw. pernah
memberitahu para sahabatnya bahwa: “Para Nabi tidak dibiarkan didalam kubur
mereka setelah empat puluh hari, tetapi mereka bersembah-sujud dihadapan Allah
swt.hingga saat sangkala ditiup (pada hari kiamat)”.
Al-Baihaqi menanggapi hadits ini dengan tegas mengatakan: ‘Tentang
kehidupan para Nabi setelah mereka wafat banyak diberitakan oleh hadits-hadits
shohih’. Setelah itu ia menunjuk kepada sebuah hadits shohih yang
meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda :“Aku melewati Musa (dalam
waktu Isra’) sedang berdiri sembahyang didalam kuburnya”.
Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin, bahwa dalam perjalanan
Isra’ Rasulallah saw. melihat Nabi Musa as. sedang berdiri sholat, Nabi
‘Isa as. juga sedang berdiri sholat. Bahkan Rasulallah saw. mengatakan
bahwa Nabi ‘Isa as mirip dengan ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafy. Beliau
saw. juga melihat Nabi Ibrahim as. sedang berdiri sholat dan Nabi ini
mirip dengan beliau saw. Setiba saat sholat berjama’ah beliaulah yang
meng- imami para Nabi dan Rasul sebelumnya. Usai sholat malaikat Jibril as
berkata kepada beliau saw.: ‘Ya Rasulallah, lihatlah, itu malaikat Malik,
pengawal neraka, ucapkanlah salam kepadanya’. Akan tetapi baru saja
Rasulallah saw. menoleh ternyata malaikat Malik sudah mengucapkan salam lebih
dahulu.
Riwayat tentang
Isra’ ini dapat kita baca dalam Shohih Muslim yaitu riwayat yang berasal
dari Anas bin Malik dan diketengahkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf
jilid 3/577.
Dalam Dala’ilun-Nubuwwah Al-Baihaqi mengetengahkan sebuah hadits
shohih dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. mengatakan setelah Isra’:
“Pada malam Isra’ aku melihat Musa dibukit pasir merah sedang berdiri sembahyang
dalam kuburnya”. Hadits ini diketengahkan juga oleh Muslim dan Shohih-nya
jilid 11/268.
Banyak hadits
dari Rasulallah saw. waktu beliau saw. Isra’ dan Mi’raj telah melihat para Nabi
dan Rasul ; Musa as. ‘Isa as. Ibrahim as. Idris as., Yunus, Yusuf as. dan
lain-lain. Ini juga membuktikan bahwa para Nabi dan Rasul hidup di alam
barzakh dengan kemuliaan, keagungan dan keluhuran yang serba sempurna berkat
karunia Allah swt. dan mereka tetap bersembah sujud kepada Allah swt.
Begitu juga dalam riwayat Isra’ dan Mi’raj ini, setiap Rasulallah saw. bertemu
para Rasul selalu berdo’a kepada Allah swt. kebaikan dan kebajikan untuk
Rasulallah saw. Dengan demikian menunjuk kan bahwa orang yang telah wafat
masih bisa juga berdo’a kepada Allah swt. untuk orang yang masih hidup.
Sedangkan
hadits-hadits Nabi saw. mengenai pertanyaan dan siksa kubur
diantaranya: Diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan
oleh Bukhori dan Muslim dari Qatadah yang diterimanya dari Anas bin Malik,
diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan Ash Habus Sunan dari Barra’ bin ‘Azib,
dan yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, dan shohih Abu Hatim, diriwayatkan
shohih Bukhori yang diterima dari Samurah bin Jundub, diriwayatkan oleh Thahawi
dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Nasa’i dan Muslim yang diterima dari Anas,
yang diriwayatkan oleh Nasa’I, Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar. (Kami sengaja
mencantumkan perawi-perawi nya saja dan tidak mencantumkan
hadits-haditsnya karena cukup panjang sehingga memerlukan halaman yang lebih
banyak lagi. Bagi pembaca yang ingin mengetahui hadits mengenai ruh-ruh dialam
barzakh dan adzab kubur, lebih mudahnya silahkan rujuk pada buku terjemahan
bahasa Indonsia Fikih Sunnah oleh Sayyid Sabiq jilid 4 dari halaman
221).
Jadi jelas
sekali banyak riwayat hadits mengenai ruh-ruh orang mukmin di alam barzakh,
mereka bisa tetap mendapat pahala, bisa berdo’a, terbang kemana-mana menurut
kehendaknya dan sebagainya. Semuanya ini adalah kekuasaan Ilahi yang kadang
kala tidak terjangkau oleh pikiran manusia biasa, yang belum diberi ilmu oleh
Allah swt. mengenai hal itu.
Nabi saw.
juga mensunnahkan memohonkan ampun bagi mayat pada waktu sholat jenazah, ziarah
kubur dan waktu lainnya atau berdo’a pada waktu selesai dimakamkan agar dikuatkan
pendiriannya sebagaimana hadits yang diterima dari Usman bin Affan di
riwayatkan oleh Abu Dawud dan oleh Hakim yang menyatakan sahnya, juga
oleh Al Bazzar.
كَانَ النَّبِي.صَ. إذَا فُرِغَ مِنَ الدَّْفْنِ المَيِّت وَقَفَ عَلَيْهِ, فَقَالَ: إستَغْفِرُوا
ِلأخِيْكُمْ وَسَلوُا لَهُ التَثبِـيْتَ فَإنّـَهُ الأنَ يُسْألُ
(رواه ابو داود والحكم وصححه
والبزار)
“Bila
selesai menguburkan mayat, Nabi saw., berdiri di depannya dan bersabda:
Mohonkanlah ampun bagi saudaramu, dan mintalah dikuatkan hatinya, karena
sekarang ini ia sedang ditanya (oleh
Malaikat Munkar dan Nakir)”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar