kalimaht tauhid

"miftahul jannah lailahaillaallah" kuncinya surga adalah kalimath tauhid".

Rabu, 27 Maret 2013

KEHIDUPAN ROH MANUSIA YANG TELAH WAFAT



 Mari kita rujuk ayat-ayat ilahi dan hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai ruh-ruh orang yang telah wafat.
  Firman Allah swt.: “Janganlah kalian berkata; bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup (dialam lain), tetapi kalian tidak menyadarinya”.(Al-Baqarah : 154)

 Dan firman-Nya: “Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dan mereka memperoleh rizki (kenikmatan besar)” ( Ali Imran : 169)
  Firman-Nya juga: “Mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang ruh. Jawablah: ‘Itu termasuk urusan Tuhanku’, dan tidaklah kamu diberi ilmu (pengetahuan) melainkan sedikit”  (Al Israa : 85)
 Dua firman Allah diatas disamping menyebutkan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu tidak mati tetap hidup (ruhnya) mendapat kenikmatan, juga dalam ayat-ayat itu tidak menyebutkan pembatasan yakni hanya ruh-ruh orang-orang yang gugur dalam peperangan saja yang masih hidup. 
Dengan demikian baik wafatnya itu waktu dalam peperangan sabil maupun wafat diatas tempat tidur, ruh-ruh (jadi bukan jasadnya) ini semuanya masih hidup di alam barzakh, makna yang demikian ini sejalan dengan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ruh manusia yang telah wafat (baca keterangan selanjutnya). 
 Malah ada riwayat waktu sahabat selesai dari perang besar, mereka gembira tetapi Rasulallah saw. bersabda: Kita sekarang selesai perang yang kecil dan menghadapi perang yang lebih besar. Sahabat bertanya; Perang apakah itu Ya Rasulallah, beliau saw. menjawab ; Memerangi hawa nafsu !
 Firman Allah swt.: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS 4:41)
 Firman-Nya juga; “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu“ (QS 2:143)   Para Muthawwi’ sekitar makam Rasulallah saw. di Madinah selalu berteriak-teriak kepada para penziarah dengan ucapan, ‘Wahai haji, Rasul telah mati, berikan salam dan segera pergilah’ dan jika ada yang sedikit berlama-lama dalam berziarah lantas diteriaki, ‘Wahai haji, syirik…!!’. Bagi si pembaca bisa menyaksikan sendiri bila nantinya berziarah ke makam Rasulallah saw.. Apa maksud kata-kata itu?.Apakah mereka ini tidak memahami ayat-ayat ilahi diatas? Kalau golongan Wahabi mengatakan Rasulallah sudah wafat, bagaimana beliau saw. akan menjadi saksi bagi ummatnya setelah wafatnya beliau saw.? Tidak mungkin pula Nabi saw. dipanggil sebagai seorang saksi atas apa yang tidak beliau ketahui atau tidak beliau lihat!!
 Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal  dalam Musnad-nya jilid III halaman 3 dari Abu ‘Amir,  Abu ‘Amir menerimanya dari ‘Abdulmalik bin Hasan Al-Haritsiy, ‘Abdulmalik menerimanya dari Sa’id bin ‘Amr bin Sulaim, yang menuturkan sebagai berikut: "Saya mendengar dari seorang diantara kita, namanya aku lupa, tetapi (menurut ingatanku) ia bernama Mu’awiyah atau Ibnu Mu’awiyah. Ia menyampaikan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. yang mengatakan, bahwasanya Rasulallah saw. pernah menyatakan; ‘Seorang mayyit mengetahui siapa yang mengangkatnya, siapa yang memandikannya dan siapa yang menurunkannya ke liang kubur’.  Ketika dalam suatu majlis Ibnu ‘Umar mendengar hadits tersebut ia bertanya; ‘Dari siapa anda mendengar hadits itu’? Orang yang ditanya menjawab; ‘Dari Abu Sa’id Al-Khudri’. Ibnu ‘Umar pergi untuk menemui Abu Sa’id, kepadanya ia bertanya; ‘Hai Abu Sa’id, dari siapakah anda mendengar hadits itu ?’ Abu Sa’id menjawab; ‘Dari Rasulallah saw.’" 
  Ibnul Qayyim didalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan, bahwa ruh Abubakar Ash-Shiddiq ra. tampak (setelah ia wafat) didalam suatu peperangan bertempur bersama-sama pasukan muslimin melawan kaum musyrikin.
 Ibnul-Wadhih pun dalam Tarikh-nya mengemukakan kesaksian seorang yang melihat Rasulallah saw. (beliau saw. telah lama wafat) membawa sebuah tombak pendek ikut berperang melawan musuh-musuh Ahlul-Bait beliau di Karbala, medan perang tempat Al-Husain ra. gugur sebagai pahlawan syahid.
Dalam hadits-hadits Nabi saw. menerangkan bahwa ruh-ruh orang yang wafat itu hidup dialam barzakh, bisa mendengar terompah-terompah kaki orang yang mengantarkan kekuburnya (HR Bukhori, Muslim dan lain-lain), bisa mendo’akan kerabatnya dan sebagainya (HR Ahmad dan Turmudzi dari Anas). Begitu juga Imam Bukhori dan Muslim mengemukakan kisah perjalan- an Isra-Mi’raj Nabi saw.. Setiap beliau saw. bertemu para Nabi dan Rasul terdahulu, semua mendo’akan kebajikan bagi beliau saw.. Dengan demikian disini menunjukkan bahwa arwah orang yang telah wafat di alam baqa bisa berdo’a.
 Rasulallah saw. juga bersabda bahwa arwah kaum mu’minin bisa terbang kemana saja yang mereka kehendaki (dari Salman Al-Farisy yang ditulis oleh Ibnul Qayyim ‘Mengenai soal ruh’ halaman 144, serta ada sabda Rasulallah saw. yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik ra). Begitu juga mengenai adzab/siksa didalam kubur dan lain sebagainya.
 Didalam buku fiqih Sunnah Sayid Sabiq ,Indonesia, jilid 4 dari hal.221 bab pertanyaan didalam kubur, antara lain ditulis:
“Berkata Ibnul Qayim:’Menurut madzhab golongan Salaf serta para imam mereka, jika seseorang wafat, maka adakalanya ia akan berbahagia dan adakalanya pula celaka, hal mana akan dirasakan oleh ruh dan badannya. Ruhnya itu akan tetap ada setelah ia berpisah dari badan, mengalami kebahagiaan atau kesengsaraan, dan sewaktu-waktu ia akan kembali berhubungan dengan badannya, buat menikmati kebahagiaan atau menderitakan kesengsaraan itu bersama-sama. Kemudian bila datang saatnya kiamat besar, ruh-ruh itu pun kembali kepada tubuh masing-masing, dan bangkit lah mereka dari kubur untuk menghadap Allah Rabbul ‘Alamin. Dan mengenai kembalinya badan-badan ini, disepakati bersama baik oleh golongan Muslimin, Yahudi maupun Nasrani’ “.
 Dalam halaman 223 dibuku tersebut juga ditulis, bahwa Hafidz berkata dalam Al-Fath: “Ahmad bin Hazmin dan Ibnu Hurairah berpendapat bahwa pertanyaan (kubur) itu hanya diajukan kepada ruh saja, tanpa kembalinya kepada tubuh. Pendapat ini berbeda dengan pendapat jumhur yang mengatakan, Ruh itu dikembalikan kepada tubuh atau kepada sebagian daripadanya sebagaimana diterangkan oleh hadits. Seandainya hanya kepada ruh saja, maka badan tidak mempunyai keistemewaan apa-apa. Dan tidak adahalang annya jika tubuh mayat telah terpisah-pisah, karena Allah mampu mengembalikan kehidupan kepada satu bagian dari tubuh tsb., yang akan menjadi sasaran pertanyaan, disamping Dia mampu pula menghimpun bagian-bagian tubuh yang telah berserakan”.
            Yang menjadi alasan bagi orang yang mengatakan bahwa pertanyaan kubur itu hanya ditujukan kepada ruh saja, ialah karena menurut pengamatan, tidak ada tanda-tanda dan bekas tampak pada tubuh itu sewaktu ditanya, seperti bangkit duduk, digencet atau dilapangkan tempat dan lain-lain. Dan demikian pula halnya dengan mayat yang tidak ditanam seperti yang disalib dan lain-lain. Sebagai jawabannya, jumhur mengatakan bahwa itu tidak menjadi halangan dalam kodrat Ilahi, bahkan ada bandingannya dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu orang yang tidur, kadang-kadang ia merasakan kesenangan atau kesakitan, sedang teman yang didekatnya tidak mengetahuinya. Bahkan juga orang yang tidak tidur (sedang bangun), kadang-kadang ia merasakan kesenangan atau kesakitan, sedang teman yang didekatnya tidak mengetahuinya. Atau dia sedang merasa susah atau senangdisebabkan apa yang sedang didengar atau dipikirkannya, padahal kawan duduknya tidak menyadarinya.

Pokok pangkal kesalahan terletak dalam menyamaratakan yang ghaib dengan yang nyata, suasana dialam barzakh dengan di alam dunia.Rupanya Allah swt telah menurunkan hijab/tirai dan menutupi pandangan dan pendengaran hamba dari menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, agar mereka tidak takut dan tidak melarikan diri. Apalagi alat-alat indera duniawi tidak mempunyai kemampuan buat menembus soal-soal dialam malakut, kecuali bagi orang-orang yang di-izinkan Allah swt. Demikianlah antara lain yang dikutip oleh Sayid Sabiq dalam Fiqih Sunnah-nya. Kami sengaja sering mengutip dari bukunya Sayid Sabiq karena sebagian besar pendapatnya sepaham dengan golongan Wahabi/Salafi
            Agama Islam mewajibkan mempercayai adanya alam ruh walaupun semuanya ini belum terjangkau dengan akal manusia. Semuanya ini telah dijelaskan baik dalam ayat ilahi maupun sunnah Rasulallah saw.. Hadits-hadits diatas ini (bisa melihat siapa yang memandikannya, yang mengantarkan keliang kubur, bisa terbang kealam mana saja yang dia dikehendaki dan lain sebagainya) juga menunjukkan dan memperkuat kenyataan adanya kehidupan dialam ghaib (barzakh).
            Didalam perang Badr pun banyak sahabat Nabi saw. melihat sejumlah Malaikat turun dari langit, berpakaian jubah dan serban berwarna kuning dan membawa pedang ditangan ikut berperang dipihak pasukan muslimin. Riwayat ini juga menunjukkan bahwa ada manusia-manusia yang bisa melihat Malaikat, yaitu orang-orang yang diberi ilmu dan dikarunia kemuliaan khusus (karamah/keramat) diantara para waliyullah. 
 Hadits dari Anas bin Malik sebagai berikut :  َّ

   عَنْ أنَسٍ بْنِ مَالِكٍ (ر) أنَّ رَسُوْلَ الله .صَ. تَرَكَ قََتـْلَى بَدْ ٍر ثَلاَثًا ثُمَّ أتَاهُـمْ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَنَادَاهُمْ فَقَالَ:          
 يَا أبَا جَهلٍ ابْنَ هِشَـامٍ يَا أمَيَّةُ ابْنَ خَلَفٍ يَا عُتْبَةُ ابْنَ رَبِيْعَة يَا شَيْبَة ابْنَ رَبِيـْعَة اَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ              
مَا وَعَد رَبُّكُمْ حَقـًّا فَاِنّيِ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقـًّا.فَسَمِعَ عُمَرُ قَوْلَ النَّبِي فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله          
 كَيْفَ يَسْمَعُوْا وأنَّي يُجِيبُوْا وَ قَدْ جَيِِّفُوْا. قَالَ: وَالَّـذِي نَفْسِي بِيَدِه مَا أنْـتُمْ بِأسْمَع لِمَا أقُوْلُ مِنْهُمْ                     
  وَلَـكِنَّهُمْ لاَ يَقـدِرُوْنَ اَنْ يجِيْبُوا (رواه البخاري ومسلم)                                                           

“Bahwa Rasulallah saw. membiarkan mayyit orang kafir yang terbunuh dalam peperangan Badar selama tiga hari. Kemudian beliau saw mendatangi mereka lalu berdiri sambil menyeru mereka:  ‘ Hai Abu Jahal bin Hisyam, Hai Umayyah bin Khalaf, Hai Utbah bin Rabi’ah, Hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kamu telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar (yakni kalah dan terbunuh). Sesungguhnya aku telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar (yakni memperoleh kemenangan)’  Umar bin Khattab ra mendengar ucapan Nabi saw. bertanya: ‘ Wahai Rasulallah, bagaimana mereka bisa mendengar dan bagaimana pula mereka bisa menjawab sedangkan mereka telah menjadi bangkai ? Maka Rasulallah saw. bersabda: ‘Demi zat yang diriku ada di tangan-Nya, tidaklah kamu memiliki kemampuan mendengar yang melebihi mereka terhadap apa yang aku ucapkan, akan tetapi mereka tidak mampu menjawab’ “. (HR.Bukhori, Muslim).
            Lihat hadits terakhir diatas ini yang mana Rasulallah saw. telah tegas menjawab pertanyaan Umar bin Khattab ra bahwa mayyit itu bisa mendengar perkataan Nabi saw. malah pendengaran mereka itu lebih tajam dari para sahabat yang hadir. Hadits ini menunjukkan kebolehan kita untuk memanggil orang yang telah wafat dengan kata-kata Ya Fulan ( Hai anu)  atau memanggil Ya Rasulalllah dan sebagainya. Begitu juga apa salahnya kalau kita sering memanggil junjungan kita Muhammad saw. dengan kata-kata Ya Rasulallah…? (silahkan baca bab tawassul dan tabarruk dalam website ini)
            Ada golongan yang senang memutar balik makna hadits dari Anas bin Malik tersebut dengan mengatakan hal ini karena Rasulallah saw. yang berkata kepada si mayyit bila selain beliau saw. maka mayyit tersebut tidak akan bisa mendengar. Pikiran mereka semacam ini sudah tentu salah karena yang pertama dalam hadits itu  Rasulallah saw. tidak mengatakan khusus untuk beliau mayyit tersebut bisa mendengar ucapannya, sedangkan selain beliau mayyit itu tidak bisa mendengar. Bila demikian Rasulallah saw akan menjawab terhadap Umar ra ‘mereka itu mendengar karena aku yang berbicara padanya dan selain aku maka mereka tidak bisa mendengarnya’ tapi jawaban beliau saw. adalah: ‘tidaklah kamu memiliki kemampuan men- dengar yang melebihi mereka terhadap apa yang aku ucapkan’..  
 Yang kedua; banyak hadits lain mengatakan bahwa orang yang sudah dikuburkan itu dikembalikan ruhnya kedalam tubuhnya dan dia bisa mendengar terompah para pengantar jenazahnya, bisa merasakan hidup bahagia atau sengsara (adzab kubur) di-alam barzakh, dan lain sebagainya. Dalam hadits lain Rasulallah saw. menyuruh kita menziarahi kubur dan memberi salam kepada mereka. Tidak lain yang menjadikan semua mayyit bisa mendengar dan sebagainya ini adalah Allah swt. dan tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa Allah swt. mampu melakukan yang demikian ini.
            Telitilah hadits-hadits Rasulallah baik yang telah kami kemukakan maupun pada halaman berikut ini yang mana beliau saw. bisa menjawab semua salam yang disampaikan kepadanya. Beliau saw. juga bisa berdo'a kepada Allah swt. untuk kaum muslimin yang masih hidup dan lain sebagainya, walaupun beliau saw. sudah wafat. Begitupun juga ruh kaum mukminin lainnya.
 Hadits dari Abu Ya’la dalam mengemukakan persoalan Nabi ‘Isa as. dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw. bersabda: “Jika orang berdiri diatas kuburku lalu memanggil ‘Ya Muhammad Rasulallah’ pasti kujawab”. Hadits ini dikemukakan juga oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Al-Mathalibil-Aliyah jilid 4/23 pada bab: ‘Kehidupan Rasulallah saw. didalam kuburnya’.  
 Anas bin Malik ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulallah saw. pernah menerangkan: “Para Nabi hidup didalam kubur mereka dan mereka bersembahyang”. Hadits ini diketengahkan oleh Abu Ya’la dan Al-Bazaar di dalam kitab Majma’uz- Zawaid jilid 8/211. Imam Al-Baihaqi juga menge- tengahkan juga dalam bagian khusus dari risalahnya.  
  Anas bin Malik ra. juga mengatakan, bahwa Rasulallah saw. pernah memberitahu para sahabatnya bahwa: “Para Nabi tidak dibiarkan didalam kubur mereka setelah empat puluh hari, tetapi mereka bersembah-sujud dihadapan Allah swt.hingga saat sangkala ditiup (pada hari kiamat). 
  Al-Baihaqi menanggapi hadits ini dengan tegas mengatakan: ‘Tentang kehidupan para Nabi setelah mereka wafat banyak diberitakan oleh hadits-hadits shohih’. Setelah itu ia menunjuk kepada sebuah hadits shohih yang meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda :“Aku melewati Musa (dalam waktu Isra’) sedang berdiri sembahyang didalam kuburnya”. 
 Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin, bahwa dalam perjalanan Isra’ Rasulallah saw. melihat Nabi Musa as. sedang berdiri sholat, Nabi ‘Isa as. juga sedang berdiri sholat. Bahkan Rasulallah saw. mengatakan bahwa Nabi ‘Isa as mirip dengan ‘Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafy. Beliau saw. juga melihat Nabi Ibrahim as. sedang berdiri sholat dan Nabi ini mirip dengan beliau saw. Setiba saat sholat berjama’ah beliaulah yang meng- imami para Nabi dan Rasul sebelumnya. Usai sholat malaikat Jibril as berkata kepada beliau saw.: ‘Ya Rasulallah, lihatlah, itu malaikat Malik, pengawal neraka, ucapkanlah salam kepadanya’. Akan tetapi baru saja Rasulallah saw. menoleh ternyata malaikat Malik sudah mengucapkan salam lebih dahulu.  
Riwayat tentang Isra’ ini dapat kita baca dalam Shohih Muslim yaitu riwayat yang berasal dari Anas bin Malik dan diketengahkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf jilid 3/577.  
 Dalam Dala’ilun-Nubuwwah Al-Baihaqi mengetengahkan sebuah hadits shohih dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. mengatakan setelah Isra’: “Pada malam Isra’ aku melihat Musa dibukit pasir merah sedang berdiri sembahyang dalam kuburnya”. Hadits ini diketengahkan juga oleh Muslim dan Shohih-nya jilid 11/268.  
Banyak hadits dari Rasulallah saw. waktu beliau saw. Isra’ dan Mi’raj telah melihat para Nabi dan Rasul ; Musa as. ‘Isa as. Ibrahim as. Idris as., Yunus, Yusuf as. dan lain-lain. Ini juga membuktikan bahwa para Nabi dan Rasul hidup di alam barzakh dengan kemuliaan, keagungan dan keluhuran yang serba sempurna berkat karunia Allah swt. dan mereka tetap bersembah sujud kepada Allah swt. Begitu juga dalam riwayat Isra’ dan Mi’raj ini, setiap Rasulallah saw. bertemu para Rasul selalu berdo’a kepada Allah swt. kebaikan dan kebajikan untuk Rasulallah saw. Dengan demikian menunjuk kan bahwa orang yang telah wafat masih bisa juga berdo’a kepada Allah swt. untuk orang yang masih hidup.
 Sedangkan hadits-hadits Nabi saw. mengenai pertanyaan dan siksa kubur diantaranya: Diriwayatkan oleh Muslim dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Qatadah yang diterimanya dari Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan Ash Habus Sunan dari Barra’ bin ‘Azib, dan yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, dan shohih Abu Hatim, diriwayatkan shohih Bukhori yang diterima dari Samurah bin Jundub, diriwayatkan oleh Thahawi dari Ibnu Mas’ud, diriwayatkan oleh Nasa’i dan Muslim yang diterima dari Anas, yang diriwayatkan oleh Nasa’I, Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar. (Kami sengaja mencantumkan perawi-perawi nya saja dan tidak mencantumkan hadits-haditsnya karena cukup panjang sehingga memerlukan halaman yang lebih banyak lagi. Bagi pembaca yang ingin mengetahui hadits mengenai ruh-ruh dialam barzakh dan adzab kubur, lebih mudahnya silahkan rujuk pada buku terjemahan bahasa Indonsia Fikih Sunnah oleh Sayyid Sabiq jilid 4 dari halaman 221). 
 Jadi jelas sekali banyak riwayat hadits mengenai ruh-ruh orang mukmin di alam barzakh, mereka bisa tetap mendapat pahala, bisa berdo’a, terbang kemana-mana menurut kehendaknya dan sebagainya. Semuanya ini adalah kekuasaan Ilahi yang kadang kala tidak terjangkau oleh pikiran manusia biasa, yang belum diberi ilmu oleh Allah swt. mengenai hal itu.
Nabi saw. juga mensunnahkan memohonkan ampun bagi mayat pada waktu sholat jenazah, ziarah kubur dan waktu lainnya atau berdo’a pada waktu selesai dimakamkan agar dikuatkan pendiriannya sebagaimana hadits yang diterima dari Usman bin Affan di riwayatkan oleh Abu Dawud dan oleh Hakim yang menyatakan sahnya, juga oleh Al Bazzar. 
كَانَ النَّبِي.صَ. إذَا فُرِغَ مِنَ الدَّْفْنِ المَيِّت وَقَفَ عَلَيْهِ, فَقَالَ: إستَغْفِرُوا ِلأخِيْكُمْ وَسَلوُا لَهُ التَثبِـيْتَ فَإنّـَهُ الأنَ يُسْألُ 
 (رواه ابو داود والحكم وصححه والبزار)                                                                                                                “Bila selesai menguburkan mayat, Nabi saw., berdiri di depannya dan bersabda: Mohonkanlah ampun bagi saudaramu, dan mintalah dikuatkan hatinya, karena sekarang ini ia sedang ditanya (oleh Malaikat Munkar dan Nakir)”.

Tidak ada komentar:

BERDO'ALAH

BERDO'ALAH
Berdoa merupakan suatu ibadah, bahkan menjadi otaknya ibadah. Kenapa doa menjadi otaknya ibadah? Karena, dengan berdoa jelas sekali memperlihatkan penghambaan manusia kepada Allah. Dengan berdoa kepada Allah, maka terwujudlah: Allah, tempat meminta, tempat memohon, sedang si hamba adalah makhluk yang hina dan selalu dalam kekurangan. Karena suatu ibadah, maka berdoa sangatlah dianjurkan (diperintahkan) oleh agama, walaupun doa tidak memerlukan suatu syarat dan rukun yang ketat, seperti halnya ibadah shalat, zakat, dan puasa.